Thursday, August 30, 2007

Resiko Bila Memilih Aborsi

Dalam beberapa kesempatan baik itu didalam seminar, talk show maupun acara siaran radio dan kebetulan saya yang menjadi nara sumbernya. Ada peserta maupun pendengar siaran yang menanyakan mengenai Aborsi terutama resiko – resiko yang akan terjadi setelahnya. Saya berusaha menuliskan kembali jawaban saya dibawah ini :

Aborsi memiliki risiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi ia "tidak merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang." Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi. Ada 2 macam risiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi:
1. Risiko kesehatan dan keselamatan secara fisik
2. Risiko gangguan psikologis
Risiko kesehatan dan keselamatan fisik
Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku Facts of Life yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd yaitu:
1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation)
5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya
6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
9. Kanker hati (Liver Cancer)
10. Kelainan pada placenta/ ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya
11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)

Risiko kesehatan mental
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki risiko tinggi dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita.
Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai "Post-Abortion Syndrome" (Sindrom Paska Aborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam "Psychological Reactions Reported After Abortion" di dalam penerbitan The Post-Abortion Review (1994).
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti berikut:
1. Kehilangan harga diri (82%)
2. Berteriak-teriak histeris (51 %)
3. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)
4. Ingin melakukan bunuh diri (28%)
5. Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)
6. Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)
Diluar hal-hal tersebut diatas para wanita yang melakukan aborsi akan dipenuhi perasaan bersalah yang tidak hilang selama bertahun-tahun dalam hidupnya.
dr. iwan – diolah dari beberapa sumber )

8 comments:

A Feminist Blog said...

Dokter Iwan, mengenai resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik, jika aborsi ini dilakukan oleh seorang dokter yang ahli di bidangnya, berapa persen kemungkinan terjadi pendarahan?
Dalam salah satu tulisanku di milis tentang aborsi, (aku lebih cenderung untuk mengatakan bahwa pilihan untuk melakukan aborsi ada di tangan si perempuan), aku diserang beberapa orang di milis (karena tulisan itu kukirim ke beberapa milis). Daripada membiarkan kehamilan itu sampai bayi lahir, dan kemudian membunuh bayi itu (untuk melindungi nyawa si ibu), yang tentu akan lebih mengakibatkan resiko psikologis yang lebih parah, bukankah lebih baik melakukan aborsi yang aman? Tentu saja hal ini berkenaan dengan Kehamilan Yang Tak Diinginkan.
Thanks.

bupatijepara said...

assalamualika wr.wb.
siang kakakku
lagi sibuk yach..?
kapan nie ke jogja ..?
katanya dulu pas ana punya event mau datang.
ak rencana mau buat event tentang
membedah al hijamah secara medis
jadi pengisinya dokter plus praktisi
moga aja jadinya ana he..3x
jadi kita ingin mengagas setelah buat asisiasi bekam indonesia
jadi kita ingin membuat bekam mjd pengobatan yang utama
doaim yach..?
mujib
bupati jepara 2021

Ratna Dwi Astuti said...

kenapa banyak yasng menbuka praktek aborsi yang tanpa alat khusus? apakah para aborsi yang melakukanya tidak sikenakan hukuman?

Ratna Dwi Astuti said...

kenapa banyak yasng menbuka praktek aborsi yang tanpa alat khusus? apakah para aborsi yang melakukanya tidak sikenakan hukuman?

anna_lie said...

Dokter Iwan, saya suda melakukan aborsi kira2 sudah 3 mingguan.saya melakukan aborsi pada seorang dokter. kata dokter nya saya 3 minggu uda sembuh. tapi saya masi sering nge flek. kadang2 perut saya sebelah kiri suka senyut2 sakit ( walau ga terlalu sakit). apakah itu normal ya dok?

asty_winda said...

dokter iwan, saya aborsi 31 maret 09 yang lalu.sejak tanggal itu sampai 3 minggu kemudian,saya masih mengeluarkan flek atau bercak darah. lalu bercak itu hilang. tapi hingga tanggal 18 mei, saya tidak mendapatkan menstruasi kembali. mengapa hal demikian bisa terjadi? apa tidak menimbulkan efek buruk pada saya?terima kasih

wawan said...

permisi dok...
saya mahasiswa KU...
saya pernah baca kalo aborsi itu boleh dilakukan malah diharuskan....
indikasi na tu knp dok?
n' obat yang di pakai dgn efek minimal itu apa saja n' dosis na bagai mana.....
terima kasih sebelum na...

M. Maulia said...

Harus waspada ya.. jangan asal...

http://www.gluteraglutera.com